Tempat ini dari dulu merupakan pemasok air untuk warga setempat khususnya bagi warga yang berada di dusun satu desa Tatabau. Kebutuhan akan air, mulai dari mandi, mencuci dan juga untuk minum diperoleh dari ini. Sekalipun demikian, tidak hanya dusun satu saja yang menikmati air tersebut, namun dusun duapun menikmati air itu melalui pipa yang dialirkan ke rumah-rumah warga yang ada di dusun dua yang secara topografi lebih rendah daripada dusun satu bahkan lebih rendah dari mata air "Paisumatano".
Bukan hanya warga dusun satu yang memiliki kebiasaan mandi di mata air Paisumatano, namun warga dusun lain juga utamanya para remaja dari dusun dua sering menyempatkan diri untuk mandi dan menikmati kesegaran dan kesejukkan air tersebut. Bahkan ketika ada tamu atau pun keluarga dari desa atau kota yang datang ke Paisumatano, maka rasanya tidak lengkap jika tidak dibawa jalan-jalan dan disuguhi keindahan permandian Paisumatano. Rasanya tidak banyak tempat yang bisa dijadikan dan dikembangkan sebagai objek wisata nantinya selain permandian Paisumatano.
Pemerintah setempat memang sudah sejak lama tertarik untuk menjadikan permandian Paisumatano sebagai objek wisata yang selain untuk memperkenalkan keindahan alam ini kepada dunia, namun juga menjadi pemasukan pada ABD setempat. Namun sampai saat ini rencana itu belum terealisasi.
Hari ini, rencana dan program untuk menjadi permandian Paisumatano sebagai objek wisata tinggalah kenangan. Kesejukkan dan kesegaran air tersebut seakan dirampas oleh oknum yang berkuasa. Kenikmatan ketika bercengkengkrama saat mandi tak lagi didapatkan. Bahkan air untuk diminumpun yang sering diambil oleh warga, hari ini mengalami kesulitan. Semua itu terjadi akibat akibat ulah segelintir orang yang mermiliki kepentingan sendiri tanpa mempertimbangkan dampak buruk yang akan terjadi karenanya. Kini mata air yang dulunya dinaungi oleh tiga pohon besar sudah dibendung langsung dimulut mata airnya. Pohon besar yang menaunginya pun hanya tersisa onggokan-onggokan kayu yang sudah ditebang dan dipotong-potong oleh para pekerja.
Miris!! inilah yang terungkap ketika menyaksikan kondisi permandian Paisumatano. Program pemerintah untuk melakukan reboisasi terus digalakkan. Di berbagai daerah terdapat kumpulan Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA) yang terus menyerukan agar manusia hidup berdampingan dan melestarikan alam yang sudah Tuhan titipkan. Berbagai bencana alam terjadi di banyak daerah di Indonesia, yang sebagian mengindikasikan kelalaian kita dalam memelihara alam ini. Namun sayang, sikap serupa harus ditemui di Paisumatano. Kita tidak mengharapkan alam akan marah dan berakibat buruk bagi manusia, namun marilah sebagai makhluk berbudi, kita bercermin dengan setiap tindakan kita atas alam ini. Jangan sampai lagu Ebiet "... atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita", terjadi atas daerah yang kita cintai ini.
Komentar
Posting Komentar