Paisumatano adalah nama sebuah kampung/dusun dari desa Tatabau di kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah. Cerita legenda tentang asal usul Paisumatano ini mungkin hanyalah satu dari sekian banyak versi yang ada di masyarakat. Legenda merupakan campuran antara fakta historis/sejarah dan mitos sehigga tidak dapat dianggap mengandung kebenaran sejarah yang utuh. Lagipula, sebagian besar cerita ini adalah hasil rekonstruksi dan pengembangan oleh penulis.
Alkisah pada zaman dahulu terjadi kekeringan yang melanda daerah yang sekarang dikenal dengan nama Paisumatano. Kemarau berkepanjangan selama periode waktu yang cukup lama, hujan tidak kunjung turun di daerah itu. Hal ini menyebabkan penduduk sangat menderita mengingat air adalah unsur vital yang sangat dibutuhkan oleh manusia, mulai dari mencuci, mandi, menyiram tanaman bahkan untuk minum. Kemarau yang panjang tersebut berdampak pada kegagalan panen warga sehingga mengakibatkan kelaparan dan penderitaan yang luar biasa.
Di tengah penderitaan dan kekeringan tersebut, warga terus berusaha mencari mata air untuk menyambung hidup mereka dan memenuhi kebutuhan akan air. Namun pencarian itu tidak membuahkan hasil yang memuaskan. Sampai pada akhirnya ada seorang ibu yang membawa anaknya yang masih kecil pergi untuk mencari air minum bagi dirinya sendiri dan bagi bayinya. Bayi itu dibawanya dalam gendongannya. Setelah sekian lama mencari dan tidak menemukan air yang dibutuhkan, sang ibu terduduk lesu di suatu tempat.. Dengan menangis ia berseru mengadukan nasibnya kepada Yang Kuasa. Tiba-tiba sebuah celah batu yang berada tepat di depannya memancarkan air dan air pancaran itu mengenai matanya. melihat kejadian menakjubkan tersebut, sang ibu kemudian bergegas bersama dengan bayinya untuk minum dan memuaskan dahaga mereka. Selesai minum, dengan gembira ibu itu pergi menceritakan kepada penduduk setempat mengenai air tersebut dan penduduk pun berbondong-bondong datang di mata air itu. Penduduk setempat sangat bersukcita oleh karena air tersebut terus mengalir dengan kencang sehingga memenuhi kebutuhan mereka akan air. Air pancaran itu masih ada sampai ini, diberi nama "Sasalung" yang artinya saluran (secara spesifik ditujukan untuk menyebut air yang disalurkan melalui bambu). Sedangkan kampung tersebut diberi nama "Paisumatano" yang secara etimologi berasal dua kata yakni paisu artinya air dan mata artinya mata yang diberi akhiran no, berfungsi sebagai definitif artikel/kata sandang atau the dalam bahasa Inggris. sehingga jika diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, maka Paisumatano berarti "the wellsprimgs". Namun penyebutan ini, pada awalnya tidak ditujukan untuk mata air secara harafiah melainkan karena air yang memancar mengenai mata si ibu.
Hari ini arti Paisumatano lebih dipahami sebagai sebutan untuk daerah itu karena banyaknya mata air yang terkenal dengan kejernihan dan kesegarannya. Ada tempat permandian di Paisumatano yang selalu ramai dengan warga yang mencuci, mandi bahkan bersantai melepas penat sambil menikmati gemerincik dan guyuran air yang segar. Banyak warga yang sekalipun di rumahnya sudah ada air PDAM, namun tetap menyempatkan untuk mandi bahkan mencuci di permandian Paisumatano. Alasannya tidak lain karena kesegaran dan kesejukan yang dirasakan ketika di tempat permandian Paisumatano.
By: Ranto Tabunggang
Komentar
Posting Komentar