Langsung ke konten utama

Sejarah Gereja Eben-Haezer Paisumatano Paisumatano

SEJARAH GEREJA

JEMAAT EBEN-HAEZER PAISUMATANO

Gedung Gereja Eben-Haezer Paisumatano. 

A.    Pendahuluan

Jemaat berasal dari bahasa Yunani, Ekklesia yang berarti orang-orang yang dipanggil keluar dari kegelapan menuju terang Tuhan yang ajaib (1 Ptr 2: 9). Jemat didirikan oleh Kristus sendiri di atas dasar pengakuan akan ke-mesiasan dan ke-Anak Allahan Yesus (Mat. 16: 18). Demikianlah Gereja berkembang dari kedua belas murid Yesus berturut-turut menjadi lima puluh, tujuh puluh, lima ratus bahkan sampai tiga ribu orang di hari Pentakosta (Kis. 2: 41). Dan oleh kuasa Roh Kudus, murid-murid memberitakan Injil di Yerusalem, Yudea, Samaria dan  sampai ke ujung bumi (Kis. 1: 8). Estafet penginjilan itu diteruskan dari generasi ke generasi kekristenan sebagai wujud ketaatan   kepada Amanat Agung Tuhan  Yesus Kristus (Mat. 28: 18-20) bnd (Mrk. 16: 15-16).

    Kekristenan mencapai nusantara melalui para rohaniawan Nestorian pada sekitar abad ke-7 di daerah yang sekarang di kenal sebagai Barus, Sumatera. Hal ini dapat diketahui dari tulisan Syekh Abu al-Armini dalam bukunya "Tadhakur filha akhbar min an-kana'is wa al-adyar min nawahin Mishr wa al-iqthaaih", menyebutkan mengenai 707 biara dan Gereja Kristen Syria (Nestorian) yang tersebar pada abad ke-7, termasuk Fansur/Barus di Sumatera. Senada dengan itu, C. G. Elliot  menambahkan bahwa  Abu Salih al-Armini mengungkapkan bahwa di Fansur/Basur “tempat asal kamper” terdapat sebuah komunitas  Nestorian dan sebuah Gereeja yang dipersembahkan kepada Maria.[1] Namun  Kekristenan hilang tanpa meninggalkan jejak di daerah tersebut. Barulah kekristenan kembali diperkenalkan oleh bangsa-bangsa Eropa melalui semboan 3G nya, yakni gold, gospel dan glory. Dan  akhirnya pada awal abad ke-20, Injil mencapai daerah Banggai Kepulauan  dan Paisumatano secara khusus.

B.     Sejarah Awal Terbentuknya Jemaat

Sejarah awal terbentuknya jemaat atau lebih dikenal dengan pos pelayanan di mulai ketika pemukiman masyarakat  yang ada di Babalande didatangi oleh seorang penginjil dari Minahasa bernama Ds[2] Simon Tumbelaka. Ds Tumbelaka lahir pada 18888 dari seorang “penolong Injil” Minahasa bernama Simmon Tumbelaka dan ibu Maria Mangindaan. Ds Tumbelaka juga mempunyai seorang saudara bernama Roland Tumbelaka[i]. Ds Tumbelaka menyelesaikan pendidikannya di sekolah pendeta Oegstgeest pada tahun 1920. Ketika kembali ke Manado, Ds Tumbelaka menjadi pendeta zending di Luwuk. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pelayanan Ds Tumbelaka di Luwuk, khususnya di daerah Babalande, Banggai Kepulauan terjadi di tahun 1920. Selanjutnya pada tahun 1928, bapak Manahutu dari Maluku melanjutkan pelayanan di Babalande yang datang kemudian. Berita Injil yang dibawa oleh kedua penginjil tersebut mendapat sambutan hangat dari penduduk yang ada di Babalande, terbukti dengan adanya jiwa-jiwa yang bertobat dan menerima berita Injil dengan sukacita dan juga dilaksanakannya beberapa macam/bentuk ibadah sekalipun jemaat baru ini belum mempunyai tempat ibadah.

    Ibadah masih dilakukan di rumah-rumah penduduk karena jemaat belum mempunyai gedung Gereja dan nama jemaatpun hanya disebut “Jemaat Pelayanan”. Jemaat Babalande ini masih berupa pos pelayanan dari jemaat Kanale. Untuk yang menggembalakan posa pelayanan di Babalande ini yang pertama kali adalah seorang hamba Tuhan dari Mori yaitu bapak Oscar Karamoy.[3]

C.    Perjalanan Panjang “Jemaat Pelayanan”

Perjalanan panjang jemaat dimulai ketika Injil sudah diterima di Babalande dengan gembala pertama Ds Oscar Karamoy yang menjabat sebagai gembala jemaat baru ini dari tahun 1920-1949. Ds Oscar Karamoi juga dikenal sebagai “guru Tatabau”, karena mendirikan sekolah pertama di Tatabau dan mengajar disitu. Karena pos pelayanan Babalande terletak cukup jauh, sekitar 8 KM dari desa Tatabau, dan karena medan yang masih susah dilalui-harus melewati gunung dan hutan, maka Karamoy tidak bisa datang setiap hari bahkan di hari Minggupun, Karamoy harus melayani di jemaat Kanale. Untuk menyiasati hal itu, maka Karamoy berusaha untuk meluangkan waktu sehari atau lebih dalam seminggu untuk menjenguk dan melayani pos pelayanan Babalande. Dan setiap kali Karamoy datang ke Babalande, jemaat mulai saling memanggil untuk datang berkumpul beribadah. Sebagian besar jemaat yang masih di kebun pun dipanggil pulang untuk kebaktian. Dari hal ini terlihat semangat jemaat dalam mendengar berita Injil dari sang penginjil. Demikian pula, Ds Karamoy sebagai gembala di situ memiliki semangat pelayanan yang sangat luar biasa. Dalam masa pelayanannya, pos pelayanan dipindahkan dari Babalande ke Kambung Padang dan tidak lama kemudian dipindahkan lagi di daerah Bonua Moloas. Pada tahun 1949, Karamoy digantikan guru Injil[4

    Selanjutnya, Pos pelayanan di pindahkan lagi di Totobo’uk dengan digembalakan oleh bapak Labiro dari Poso yang melayani hanya selama satu tahun sampai pada 1950. Untuk menyiasati keadaan dan sebagai pertanda kedatangannya, maka Labiro meniup “Puukon”[5], agar jemaat segera bergegas untuk ikut dalam ibadah. Hal ini cukup bijaksana mengingat bahwa jemaat masih tinggal di rumah-rumah yang berjauhan satu dengan yang lain.

    Kemudian pada 1954[6] Gedung Gereja dipindahkan lagi di daerah Paisumatano[7] dan disahkan menjadi satu jemaat[8] pada 24 Desember 1954. Sekalipun sudah sah secara organisasi sebagai sebuah jemaat, namun sebutan “jemaat pelayanan” masih tetap dikenakan pada jemaat ini. Yang menggembalakan jemaat saat itu adalah bapak Mattapono dari Bulagi yang menggembakan pada 1954-1962. Setelah sah secara organisasi inilah, jemaat pelayanan mulai merayakan natal perdana.  Sebagai gembala jemaat di Kanale dan Paisumatano, maka Mattapono harus bisa membagi waktu pelayanannya di hari Minggu. Mattapono harus melayani pagi di jemaat Kanale dan dilanjutkan siang hari di jemaat Paisumatano. Penggembalaan kemudian dilanjutkan oleh Yahya Padung dari Pagimana pada 1963, yang menggembalakan hanya selama enam bulan. Kemudian Y. Padung digantikan lagi oleh Tahaka, seorang guru Injil dari Bone Bakal yang menggembalakan selama sembilan bulan dan dilanjutkan oleh bapak Yafet Louwe yang juga menggembalakan hanya selama sembilan bulan.

    Selanjutnya pada tahun 1966[9] yang menggembalakan di jemaat pelayanan adalah bapak Yesaya dari Komba-Komba yang menggembalakan selama setahun sampai pada 1967. Kemudian Bapak Duasing dari Malanggong melanjutkan penggembalaan selama dua tahun sampai tahun 1969. Pada 1969 bapak Duasing dimutasi[10] dan dilanjutkan oleh Obed Kiamani dari Bulagi yang pada 1971 digantikan oleh Karel Dale dari Sabang yang juga digantikan setelah dua tahun penggembalaan oleh Tomas Kinandaon dari Apal pada 1973. Tomas Kinandaon hanya menggembalakan selama satu tahun, karena pada 1974 digantikan oleh Andi Lombua yang juga berasal dari Apal.

    Dalam masa pelayanan Andi Lombua, ada seorang penginjil dari Apal, Yunus Kidolite yang mengusulkan supaya “Jemaat Pelayanan” Paisumatano ini memiliki nama yang tetap sebagaimana seharusnya. Usul itu diterima dengan baik oleh Klasis. Setelah melalui pertimbangan yang matang dan dengan merenungkan penyertaan Tuhan dalam perjalanan panjang jemaat sampai saat itu, dipilihlah nama “Eben Haezer”[11], “sampai di sini Tuhan menolong kita” (1 Sam. 7:12). Andi Lombua menggembalakan jemaat “”Eben Haezer”, Paisumatano sampai tahun 1979 yang kemudian digantikan oleh Sem Motinggei yang juga berasal dari Apal.Sem Motinggei  bercerita mengenai suka dan duka yang dialaminya di dalam pelayanan. Ketika Motinggei melayani sebagai Gembala jemaat di Jemaat Eben Haezer Paisumatano, pada saat yang sama - bahkan lebih dahulu, Motinggei menggembalakan juga di jemaat Siloam Lelang. Sementara dalam pelayanan, Motinggei dan istrinya mengalami duka yang sangat mendalam akibat ketiga anaknya meninggal dalam masa penggembalaanya tersebut. Hal tersebutlah yang mendorong isteri Motinggei "memaksa" suaminya untuk kembali ke Apal bersama dengan isterinya meninggalkan penggembalaannya baik di Lelang maupun di Paisumatano. Tepat pada 1982 Sem Motinggei digantikan oleh Losikonan Yusuf. Selanjutnya pada 1987, Losikonan Yusuf digantikan oleh Dominggus Ma’ong dari Pondan yang menggembalakan sampai pada 1999.

    Selanjutnya pada 1999 setelah Dominggus Ma’ong dimutasi ke jemaat lain, yang menggembalakan jemaat “Eben Haezer”, Paisumatano adalah Asur Nggosual[12] yang menggembalakan selama dua tahun sampai pada 2001. Kemudian pada 2002 penggembalaan dilanjutkan oleh Nahor Yalani yang hanya menggembalakan jemaat selama enam bulan sampai pada Juni 2002. Penggembalaan dilanjutkan oleh Lazarus Pobutanggon, namun juga tidak berlangsung lama. Sehingga pada 2003 ada kekosongan gembala jemaat yang untuk sementara diisi oleh Herodion Mapaloto, S.Pd., S.Th sampai pada 2005. Pada tahun 2005, Penggembalaan dilanjutkan oleh A. R. Lapaso, S.Th yang menggembalakan sampai pada 2006. Kemudian Penggembalaan dilanjutkan oleh Mardina Kamuri, S.Th[13] yang berasal dari Kupang dan menggembalakan selama 4 tahun lima bulan yakni dari 2007 sampai pada 2011. Selanjutnya pada 2011, Martonis Nggosual, yang dilantik pada 12 Juni 2011 melanjutkan penggembalaan. Martonis Nggosual sebelumnya adalah sekertaris jemaat dalam masa penggembalaan Mardina Kamuri S.Th. Namun karena Penggembalaan itu belum berakhir secara periodik, maka Martonis Nggosuallah yang menggembalakan sampai pada Maret 2014.  Selanjutnya pada 2014, seorang Hamba Tuhan dari Manado (berdomisili di Jakarta), yakni Vera Surentu, M.Th melanjutkan penggembalaan mulai pada 6 April 2014 namun kemudian Vera Surentu, M.Th harus kembali ke Jakarta meninggalkan pelayanan yang belum berlangsung selama satu bulan dan untuk sementara penggembalaan dilanjutkan Stefanus Tolobi, S.Th yang saat itu menjabat sebagai ketua klasis Buko. Kemudian pada 1 Januari 2015 Penggembalaan dilanjutkan oleh Hawin Yake, S.Th yang menggembalakan sampai 31 Desember 2016. Penggembalaan kemudian dilanjutkan oleh Asmin Tanggo pada 01 Januari 2017 sampai pada 31 Desember 2019 yang pada 01 Januari 2020 digantikan oleh Yeni Yasape sampai sekarang.



[1] Claude Guillot, Barus  Seribu Tahun  Yang  Lalu  (Jakarta: Kepustakaan Populer  Gramedia, 2007), hal. 57; 

[2] Ds adalah gelar sarjana teologi tempo dulu, diambil dari kata Domini dan disingkat dengan “Ds”

[3] Tidak diketahui tanggal kedatangan bapak Karamoi dan juga alasan kedua hamba Tuhan dari Manado tidak menggembalakan jemaat yang dirintis keduanya di Babalande, kemungkinan memang kedua hamba Tuhan hanya menginjili lalu mempercayakan hamba Tuhan lain untuk menggembalakan jiwa-jiwa yang bertobat.

[4] Sebutan untuk para pekabar injil/Misionaris

[5] Alat tiup dari kulit kerang yang biasa digunakan oleh para penjaja ikan

[6] Ada missing link selama empat tahun yang belum dapat dilacak mengenai penggembalaan di “jemaat Pelayanan” Kambung Padang

[7] Dalam bahasa setempat (Banggai), Paisumatano artinya “Mata Air”

[8] Jemaat berasal dari kata Yunani Ekklesia “Ek & Kaleo” artinya “di panggil keluar”. Sehingga jemaat dapat diartikan orang-orang yang dipanggil keluar dari kegelapan kepada terang Allah yag ajaib (1 Ptr 2: 9). Pengesahan sebagai sebuah jemaat ini dilakukan bukan dalam pengertian teologis melainkan dalam organisasi.

[9] Kekosongan penggembalaan selama beberapa bulan penggembalaan tiga periode belakangan kemungkinan diisi oleh anggota-anggota jemaat yang mulai diajar untuk melayani.

[10] Istilah organisasi Gereja untuk pemindahan tugas pelayanan hamba Tuhan dari satu jemaat ke jemaat lain.

[11] Harafiah: Eben Ezer artinya batu penolong.

[12] Asur Nggosual adalah “putra daerah” pertama yang menjadi gembala di jemaat Eben Haezer, Paisumatano

[13] Untuk pertama kalinya dalam sejarah Gereja Paisumatano seorang perempuan menggembalakan jemaat. Bukan karena wanita sebagai kaum marginal dalam pandangan Gereja, namun karena baru ada perempuan yang bersedia menjadi gembala di jemaat ini.


    

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Legenda Paisumatano

Paisumatano adalah nama sebuah kampung/dusun dari desa Tatabau di kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah. Cerita legenda tentang asal usul Paisumatano ini mungkin hanyalah satu dari sekian banyak versi yang ada di masyarakat. Legenda  merupakan campuran antara fakta historis/sejarah dan mitos sehigga tidak dapat dianggap mengandung kebenaran sejarah yang utuh. Lagipula, sebagian besar cerita ini adalah hasil rekonstruksi dan pengembangan oleh penulis.  Alkisah pada zaman dahulu terjadi kekeringan yang melanda daerah yang sekarang dikenal dengan nama Paisumatano. Kemarau berkepanjangan selama periode waktu yang cukup lama, hujan tidak kunjung turun di daerah itu. Hal ini menyebabkan penduduk sangat menderita mengingat air adalah unsur vital yang sangat dibutuhkan oleh manusia, mulai dari mencuci, mandi, menyiram tanaman bahkan untuk minum. Kemarau yang panjang tersebut berdampak pada kegagalan panen warga sehingga mengakibatkan kelaparan dan penderitaan yang luar biasa. ...

Miris !!! Kondisi Paisumatano dulu dan sekarang

   Tampilan permandian Paisumatano: dulu Paisumatano sebagai salah satu sub desa dari desa Tatabau memiliki daya tarik wisatawan yang sangat menarik sesuatu dengan namanya, yakni mata air yang jernih dan sejuk dengan pepohonan rimbun di sekitarnya dan menaungi permandian Paisumatano. Sayangnya potensi wisata ini, masih belum dikelola dengan baik oleh desa Tatabau sendiri. Sehingga keberadaan mata air dan permandian Paisumatano hanya diketahui oleh segelintir orang di luar desa Tatabau.      Tempat ini dari dulu merupakan pemasok air untuk warga setempat khususnya bagi warga yang berada di dusun satu desa Tatabau. Kebutuhan akan air, mulai dari mandi, mencuci dan juga untuk minum diperoleh dari ini. Sekalipun demikian, tidak hanya dusun satu saja yang menikmati air tersebut, namun dusun duapun menikmati air itu melalui pipa yang dialirkan ke rumah-rumah warga yang ada di dusun dua yang secara topografi lebih rendah daripada dusun satu bahkan lebih rendah dari mat...